Minggu, 19 Agustus 2018

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

36. Qonita, Serang-Banten

Surat Cinta untuk Suami ?? 
Saya dan suami bukan termasuk pasangan yang romantis sejak dulu. Ketika kemarin ditantang untuk menulis dan mengirimkan surat cinta untuk suami dari IIP, saya bingung untuk mengungkapkan apa?? Dengan bahasa yang menurut saya "pabalatak" hehehe..saya kirimkan itu surat cinta untuk suami dan jeng..jengngngng... suami tak merespon apa2.. hahahaha...
Ya sudahlahhh....yang penting hati kita tetap satu..asikkk...

Alhamdulillah di tahun ke 6 pernikahan kami, kami sudah dikaruniai dan dipercayai oleh untuk menjaga harta yang paling berharga, yaitu 2 jagoan yang sungguh luar biasa aktif dan insyaAllah Sholeh.
Anak pertama kami sudah berusia 5 tahun dan sudah duduk di bangku sekolah Kindergarten 2 (TK B). Dia merupakan anak yang aktif dan jika memiliki keinginan harus dipenuhi. Tetapi dia juga merupakan anak yang perasa. Jika mengerjakan sesuatu, dia termasuk anak yang rapih walaupun harus butuh waktu yang lama.
Anak kedua kami baru berusia 5 bulan dan sedang lucu-lucunya. Memang belum banyak terlihat potensi diri yang dimiliki olehnya, tetapi selama ini yang saya amati dia termasuk anak yang ramah, ini terlihat ketika orang-orang menyapa dia selalu tersenyum. Dia juga termasuk anak yang penyabar, ketika bundanya harus lebih mendahulukan kakaknya dia diam saja dan asik dengan dirinya sendiri. Anak kedua kami ini pun sama termasuk anak yang perasa, dia suka ikutan nangis ketika melihat kakaknya nangis.

Pengalaman saya kecil hingga beranjak dewasa mengajarkan banyak hal terutama dalam mendidik anak-anak. Saya dibesarkan dari orangtua yang bekerja di ranah publik, yang terkadang weekend pun mereka pakai untuk berorganisasi, sehingga inilah yang mengajarkan saya untuk tetap dapat membagi waktu dengan anak2 walaupun saya masih harus bekerja diranah publik, saya tidak ingin jika anak2 saya merasakan apa yang saya rasakan dahulu. Dalam keluarga, saya termasuk anak yang manja, ini mungkin saya merupakan anak satu2 nya perempuan, kakak dan adik saya laki-laki. Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Sejak TK sampai dengan Diploma, saya tidak pernah jauh atau keluar dari lingkungan rumah. Sampai2 saya kuliah di Diploma dengan jurusan Kebidanan pun atas kehendak orangtua, padahal tidak ada sama sekali terbesit oleh saya untuk menjadi seorang bidan. Pada Semester 3, saya sempat berbicara keorangtua untuk berhenti dari kuliah dan ingin tes PT kembali untuk mengejar cita2 saya menjadi seorang dokter, namun segala cara ditempuh oleh orangtua saya untuk tetap mempertahankan saya untuk melanjutkan kuliah dikebidanan, hingga akhirnya saya lulus diploma dan saya mengambil sarjana dan magister kebidanan di Yogyakarta, dan sampai sekarang saya menjadi seorang dosen kebidanan. Orangtua pernah berkata "Walaupun kamu nanti tidak menjadi bidanpun, ilmu itu akan kamu pakai untuk merawat dan mendidik anak2mu kelak" dan memang benar itu saya rasakan saat ini, saya dapat memandikan anak saya dari pertama lahir sendiri tanpa bantuan orang lain, dan masih banyak hal lain. Saya belajar kemandirian pun ketika saya keluar dari zona aman saya saat kuliah di Yogyakarta, yang tadinya segala sesuatu kebutuhan sehari2 sudah ada yang menyiapkan tapi saat itu harus saya lakukan sendiri, hingga saya dapat belajar memasak.
Ketika dalam mengerjakan sesuatu, saya harus mencari mood yang pas dan mengkonsepnya terlebih dahulu, sehingga akhirnya saya berharap dapat menghasilkan pekerjaan yang rapih dan tidak memerlukan banyak koreksian.

Saya yakin Allah menempatkan saya saat ini dengan keluarga dan lingkungan sekitar bukan secara kebetulan, tetapi semua pasti ada artinya.
Saya dipertemukan oleh suami saya yang sekarangpun bukan karena kebetulan. Sifat kami yang saling bertolak belakang memiliki arti bahwa kami harus saling melengkapi. Saya termasuk kedalam orang yang manja dan suami saya yang mandiri. Saya termasuk kedalam orang yang segala sesuatunya harus difikirkan secara matang2 dan suami yang to the point. dan masih banyak hal lain yang kami bertolak belakang.
Saya juga yakin saya ditempatkan dilingkukan bermasyarakat saat ini pun ada artinya. Di tempat saya tinggal saat ini, rata-rata ibu memiliki profesi sebagai IRT, sehingga dari sini pun saya belajar untuk tetap berusaha mengawasi dan memperhatikan anak ketika saya harus bekerja diranah publik. Disinipun saya belajar untuk tetap bersosialisasi dengan tetangga walaupun sibuk bekerja, karena bagi saya tetangga adalah keluarga terdekat saat saya ada di rumah.

Saya akan terus berusaha dan belajar untun "membangun peradaban dari dalam rumah", karena dari keluarga lah kita dapat menciptakan generasi yang dapat sukses dunia kahirat.

Salam ibu profesinal kebanggaan keluarga.

#MIIPBatch6
#NHW3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar