Minggu, 26 Agustus 2018

Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

36. Qonita, Serang-Banten

Dari minggu ke minggu belajar di Institut Ibu Profesional dan belajar dari orang2 yg menurut sya memang luar biasa..saya semakin mulai memahami apa peran saya saat ini sebagai seorang istri, ibu dan d lingkungan sktr..saya juga mulai memahami kenapa Allah tempat saya d posisi saya skrg ini.. Dan akhirnya saya juga harus mulai menentukan jurusan dan ilmu2 apa yang harus saya capai di dlm universitas kehidupan ini..

Dalam NHW#1 saya menulisakan bahwa jurusan sabar dan ikhlas yang ingin saya tekuni dalam universitas kehidupan..yang akhirnya tujuan saya adalah menjadi ibu yang profesional yang menjadi kebanggaan keluarga terutama untuk anak2 saya..saya ingin kelak nanti anak2 saya bangga memiliki bunda sprti saya..
Mungkin sbnrnya jurusan yang tepat untuk saya sesuai tujuan saya yaitu jurusan "ibu profesional" yg d dalamnya saya menekuni ilmu sabar dan ikhlas..

Dalam NHW#2, saya juga menuliskan bbrp indikator yg harus saya lakukan agar saya lulus dalam jurusan di universitan kehidupan yang sdh saya tuju.. Namun sampai saat ini saya akui memang ad bbrp yang belum bnr2 saya kerjakan secara konsisten, karena keterbatasan wkt dan lain sebagainya..
Namun saya juga akan truz berusaha agar selalu konsisten dalam melakukan indikator2 yg sdh saya tuliskan..

Dalam NHW#3, menyadarkan saya bahwa Allah menempatkan saya saat ini dg keluarga kecil saya dan lingkungkan saya saat ini memiliki maksud tersendiri..maksud2 yang Allah titipkan kpd saya saat ini menyadarkan saya agar terus belajar terutama ttg dalam pendidikan anak.. Semakin saya tahu ilmu ttg pendidikan anak & peran istri semakin membuat saya semakin merenung apakah saya sudah bnr dlm mendidik anak saat ini?? Apakah saya dapat menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga terutama anak2 saya? Apakah saya sudah menjadi istri yg baik utk suami?
Banyak sekali ilmu2 yg belum saya ketahui dalam pendidikan anak..ilmu2 yg ingin saya tekuni dalam hal pendidikan anak yaitu:
1. Ilmu parenting
2. Ilmu memanaje waktu
3. Ilmu mengendalikan diri
4. Ilmu mendidik anak sesuai dengan fitrah
5. Ilmu menjadi istri yg sholehah

Ilmu2 tersebut akan saya pelajari step by step mulai dari 0, karena bnyk sekali hal yg blm saya ketahui ttg ilmu2 tersebut.. Target saya selama satu atau dua tahun ini, harus sudah memahami dan melakukan ilmu2 itu semua di atas.. Mdh2an saya diberi kelancaran dalam menjalankan itu semua..aamiin..

Lakukan..lakukan..lakukan..lakukan..

#NHW4
#MIIPBatch6
#Ibuprofesionalkebanggaankeluarga

Minggu, 19 Agustus 2018

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

36. Qonita, Serang-Banten

Surat Cinta untuk Suami ?? 
Saya dan suami bukan termasuk pasangan yang romantis sejak dulu. Ketika kemarin ditantang untuk menulis dan mengirimkan surat cinta untuk suami dari IIP, saya bingung untuk mengungkapkan apa?? Dengan bahasa yang menurut saya "pabalatak" hehehe..saya kirimkan itu surat cinta untuk suami dan jeng..jengngngng... suami tak merespon apa2.. hahahaha...
Ya sudahlahhh....yang penting hati kita tetap satu..asikkk...

Alhamdulillah di tahun ke 6 pernikahan kami, kami sudah dikaruniai dan dipercayai oleh untuk menjaga harta yang paling berharga, yaitu 2 jagoan yang sungguh luar biasa aktif dan insyaAllah Sholeh.
Anak pertama kami sudah berusia 5 tahun dan sudah duduk di bangku sekolah Kindergarten 2 (TK B). Dia merupakan anak yang aktif dan jika memiliki keinginan harus dipenuhi. Tetapi dia juga merupakan anak yang perasa. Jika mengerjakan sesuatu, dia termasuk anak yang rapih walaupun harus butuh waktu yang lama.
Anak kedua kami baru berusia 5 bulan dan sedang lucu-lucunya. Memang belum banyak terlihat potensi diri yang dimiliki olehnya, tetapi selama ini yang saya amati dia termasuk anak yang ramah, ini terlihat ketika orang-orang menyapa dia selalu tersenyum. Dia juga termasuk anak yang penyabar, ketika bundanya harus lebih mendahulukan kakaknya dia diam saja dan asik dengan dirinya sendiri. Anak kedua kami ini pun sama termasuk anak yang perasa, dia suka ikutan nangis ketika melihat kakaknya nangis.

Pengalaman saya kecil hingga beranjak dewasa mengajarkan banyak hal terutama dalam mendidik anak-anak. Saya dibesarkan dari orangtua yang bekerja di ranah publik, yang terkadang weekend pun mereka pakai untuk berorganisasi, sehingga inilah yang mengajarkan saya untuk tetap dapat membagi waktu dengan anak2 walaupun saya masih harus bekerja diranah publik, saya tidak ingin jika anak2 saya merasakan apa yang saya rasakan dahulu. Dalam keluarga, saya termasuk anak yang manja, ini mungkin saya merupakan anak satu2 nya perempuan, kakak dan adik saya laki-laki. Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Sejak TK sampai dengan Diploma, saya tidak pernah jauh atau keluar dari lingkungan rumah. Sampai2 saya kuliah di Diploma dengan jurusan Kebidanan pun atas kehendak orangtua, padahal tidak ada sama sekali terbesit oleh saya untuk menjadi seorang bidan. Pada Semester 3, saya sempat berbicara keorangtua untuk berhenti dari kuliah dan ingin tes PT kembali untuk mengejar cita2 saya menjadi seorang dokter, namun segala cara ditempuh oleh orangtua saya untuk tetap mempertahankan saya untuk melanjutkan kuliah dikebidanan, hingga akhirnya saya lulus diploma dan saya mengambil sarjana dan magister kebidanan di Yogyakarta, dan sampai sekarang saya menjadi seorang dosen kebidanan. Orangtua pernah berkata "Walaupun kamu nanti tidak menjadi bidanpun, ilmu itu akan kamu pakai untuk merawat dan mendidik anak2mu kelak" dan memang benar itu saya rasakan saat ini, saya dapat memandikan anak saya dari pertama lahir sendiri tanpa bantuan orang lain, dan masih banyak hal lain. Saya belajar kemandirian pun ketika saya keluar dari zona aman saya saat kuliah di Yogyakarta, yang tadinya segala sesuatu kebutuhan sehari2 sudah ada yang menyiapkan tapi saat itu harus saya lakukan sendiri, hingga saya dapat belajar memasak.
Ketika dalam mengerjakan sesuatu, saya harus mencari mood yang pas dan mengkonsepnya terlebih dahulu, sehingga akhirnya saya berharap dapat menghasilkan pekerjaan yang rapih dan tidak memerlukan banyak koreksian.

Saya yakin Allah menempatkan saya saat ini dengan keluarga dan lingkungan sekitar bukan secara kebetulan, tetapi semua pasti ada artinya.
Saya dipertemukan oleh suami saya yang sekarangpun bukan karena kebetulan. Sifat kami yang saling bertolak belakang memiliki arti bahwa kami harus saling melengkapi. Saya termasuk kedalam orang yang manja dan suami saya yang mandiri. Saya termasuk kedalam orang yang segala sesuatunya harus difikirkan secara matang2 dan suami yang to the point. dan masih banyak hal lain yang kami bertolak belakang.
Saya juga yakin saya ditempatkan dilingkukan bermasyarakat saat ini pun ada artinya. Di tempat saya tinggal saat ini, rata-rata ibu memiliki profesi sebagai IRT, sehingga dari sini pun saya belajar untuk tetap berusaha mengawasi dan memperhatikan anak ketika saya harus bekerja diranah publik. Disinipun saya belajar untuk tetap bersosialisasi dengan tetangga walaupun sibuk bekerja, karena bagi saya tetangga adalah keluarga terdekat saat saya ada di rumah.

Saya akan terus berusaha dan belajar untun "membangun peradaban dari dalam rumah", karena dari keluarga lah kita dapat menciptakan generasi yang dapat sukses dunia kahirat.

Salam ibu profesinal kebanggaan keluarga.

#MIIPBatch6
#NHW3

Jumat, 17 Agustus 2018

Teruntuk Suamiku dan Ayah dari Anak2ku

04 Maret 2012...Waktu yang dipilih kita dan keluarga kita untuk mengikat janji suci kita d depan penghulu..
Saat itulah aku menyerahkan seluruh kehidupanku untuk mengabdikan diri sebagai istri untukmu suamiku..walaupun aku sadar aku belum memiliki bekal apapun untuk menjadi seorang istri yang sempurna untukmu.. Namun aku jg yakin dengan berjalannya waktu kamu mampu membimbing istrimu ini menjadi istri yg lebih baik lagi.. Aku juga memiliki keyakinan bahwa dirimu bisa menjadi IMAM yang baik untuk aku dan anak2 kita hingga engkau antarkan kami ke Surga-Nya..Aamiin..

Suamiku..
Maafkan istrimu ini yang sampai saat ini belum bisa menjadi istri yang sholehah untuk mu dan belum bisa menjadi ibu yang baik untuk anak2 kita karena msh bnyk keterbatasanku..

Suamiku..
Maafkan istrimu ini yang masih suka bawel dan marah2 kepadamu.. Karena aku ingin yang terbaik untuk keluarga kita..
Ini semua juga terkadang karena posisiku yang memang bnr2 sudah lelah dan ingin engkau bisa meringankan bebanku..

Suamiku..
Maafkan istrimu yang selalu ingin dimengerti tanpa aku harus mengungkapkannya kepadamu..

Suamiku..
Tapi aku berjanji..aku akan terus belajar demi menjadi seorang istri yang sholehah untukmu dan menjadi ibu yang baik untuk anak2 kita..
Aku juga berharap engkau dapat membimbing istrimu yang serba kekurangan ini menjadi lebih baik lagi karena tanpa bimbinganmu aku takut salah arah..

Suamiku..
Aku ingin..aku, kamu dan anak2 kita bisa bersama selamanya hingga maut memisahkan..
Dan kita bisa berkumpul kembali di Surga Nya..aamiin..

Terimakasih untuk segala yang kau berikan selama 6 tahun 5 bulan ini kepada aku dan anak2 kita..
Semoga lelahmu menjadi Lillah.. Aamiin..

Love U Suamiku dan Ayah dari anak2ku 😘😘

Sabtu, 11 Agustus 2018

Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

NHW#2
36. Qonita - Serang, Banten

Dalam tulisan sebelumnya ada jurusan yang benar-benar ingin saya tekuni dalam universitas kehidupan ini yaitu "Sabar dan Ikhlas". Untuk mencapai hal itu semua ada beberapa indikator yang harus saya lakukan yang akan mewujudkan profesionalisme saya sebagai perempuan, baik sebagai individu, istri ataupun ibu.

Kunci dalam mebuat indikator yaitu SMART:
SPECIFIK (unik/detail)
MEASURABLE (terukur)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (berikan batas waktu)
(Sumber: Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional)

Adapun indikator yang harus dilakukan, yaitu:
1. Sebagai Individu
    a. Mengaji setiap hari setelah sholat subuh dan atau magrib
    b. Sholat dhuha setiap hari sebelum berangkat ke kantor
    c. Bersyukur dengan segala sesuatu yang telah Allah berikan
    d. Memperbanyak istighfar dan segera mengambil wudhu saat emosi timbul
  e. Berprasangka baik dengan apa yang terjadi, karena segala sesuatu tidak diciptakan secara kebetulan
    f. Tidak Ghibah
2. Sebagai Istri
    a. Mengutamakan keluarga (terutama anak) dibandingkan pekerjaan kantor
    b. Tepat waktu saat pulang kerja
    c. Izin ketika akan berpergian
    d. Quality time dengan keluarga saat libur kerja
    e. Menyambut dengan senyuman ketika suami pulang kerja
    f. Terbuka dengan masalah apapun
3. Sebagai Ibu
    a. No gadget saat bermain dengan anak
    b. Meredakan lelah terlebih dahulu sepulang kerja sebelum membersamai anak
    c. Full time membersamai anak ketika libur
    d. Menanyakan kegiatan yang dilakukan oleh anak setiap harinya
    e. Mengantar dan menjemput sekolah ketika waktu luang
    f. Memasak makanan kesukaan anak

Indikator-indikator di atas tidak akan terlaksana ketika tidak ada komitmen pada diri sendiri. Mudah-mudahan saya selalu diberikan kekuatan dan kesehatan untuk selalu komit dengan indikator-indikator tersebut agar dapat menjadi perempuan yang profesional, baik sebagai individu, istri maupun ibu. Aamiin..


#MIIPBatch6
#NHW2
#IbuProfesionalKebanggaanKeluarga

Sabtu, 04 Agustus 2018

Adab Menuntut Ilmu


Dalam Universitas Kehidupan ini ada jurusan ilmu yang ingin saya benar-benar tekuni yaitu "Sabar & Ikhlas".

Jika segala sesuatu yang kita inginkan selalu terwujud/terkabulkan, darimanakah kita akan belajar artinya "Sabar & Ikhlas"??


TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”.
Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.MEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.
(Kutipan dari Buku “Sepatu Dahlan Iskan”)

Dalam universitas kehidupan ini mungkin saya termasuk kedalam orang yang belum lulus pada jurusan "sabar dan ikhlas". Saya masih harus banyak belajar tentang ilmu sabar dan ikhlas, terutama dalam hal ini yaitu dalam menjalani tugas sebagai seorang istri, karena harus dapat menyatukan 2 karakter yang berbeda menjadi satu visi misi yang sama dan mendidik dua anak laki-laki kami yang memang sangat aktif.

Saya dilahirkan dan dibesarkan dari kedua orangtua yang supere duper sibuk bekerja diranah publik, jadi saya paham sekali akan perasaan anak saya saat ini ketika bundanya harus berangkat bekerja. Sebenarnya dari dahulu saya memiliki tekad agar suatu saat saya memiliki anak, anak saya tidak boleh merasakan apa yang saya rasakan dahulu, yaitu ditinggal ibu nya bekerja. Namun apa dikata sampai saat ini saya masih harus bekerja di ranah publik, karena banyak sekali kekhawatiran saya ketika nanti saya harus berhenti bekerja mulai dari A - Z, walaupun suami tidak pernah memaksa saya untuk bekerja. Tetapi tidak dipungkiri pula saya suka baper ketika harus bekerja dan meninggalkan anak-anak saya, apalagi jika anak sulung saya berkata "Aa lebih suka bunda di rumah dan bisa anter jemput sekolah". Saya selalu berjanji dalam hati suatu saat saya harus ikhlas melepaskan pekerjaan saya demi menjaga dan mendidik amanah terbesar yang telah Allah berikan kepada saya, yaitu anak-anak saya.
Saya yakin apa yang terjadi saat ini pada saya yaitu bukan kebetulan tetapi sudah Qodratullah.

Strategi yang saya akan lakukan untuk dapat mempelajari ilmu sabar dan ikhlas, yaitu kerjakan apa yang bisa saya kerjakan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, lebih mendekatkan diri pada Sang Pemilik Segalanya, mengikuti kegiatan yang positif terutama dalam mempelajari ilmu sabar dan ikhlas (salah satunya yaitu mengikuti perkuliahan di Institut Ibu Profesional), dan bergabung dengan orang-orang yang selalu berpikiran positif.

Dalam Institut Ibu Profesional banyak sekali materi dan hal-hal positif yang saya dapatkan, diantaranya yaitu dalam adab menuntut ilmu itu sendiri. Dari yang telah didapat pada materi "adab menuntut ilmu", perubahan sikap yang saya perbaiki dalam memperdalam ilmu sabar dan ikhlas yaitu bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas, baik di ranah publik atau di dalam rumah.

Satu Harapan saya saat ini yaitu menjadi "Ibu Profesional Kebanggan Keluarga" yang didalamnya ada ilmu sabar dan ikhlas.. Aamiin..

#MIIPBatch6
#NHW1
#IbuProfesionalKebanggaanKeluarga